Dalam rangkaian gelaran Indonesia Polymer Awards (IPA) 2026, Perhimpunan Polimer Indonesia (HPI) bekerja sama dengan Plastics & Rubber Indonesia (PRI) sukses menyelenggarakan webinar seri pertama yang bertajuk “The Future of Bioplastics in Indonesia and Policy Directions for Sustainable Development”. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom ini menghadirkan dua narasumber dari kalangan industri dan pemerintah, yaitu Ir. Inge Setyawati, M.BE., Direktur PT Intera Lestari Polimer, serta Prof. Dr. Eng. Agus Haryono, Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Webinar ini menjadi forum diskusi strategis mengenai perkembangan industri bioplastik nasional, tantangan pengelolaan sampah plastik, serta arah kebijakan pemerintah dalam mendorong transisi menuju ekonomi sirkular dan pembangunan berkelanjutan.
Dalam pemaparannya, Ir. Inge Setyawati menegaskan bahwa plastik masih memiliki peran penting dalam kehidupan modern, mulai dari sektor kesehatan, pangan, transportasi, hingga berbagai produk kebutuhan sehari-hari. Permasalahan utama bukan terletak pada material plastik itu sendiri, melainkan pada bagaimana plastik dirancang, digunakan, dikumpulkan, dan dikelola setelah masa pakainya berakhir. Beliau menjelaskan bahwa dunia saat ini memproduksi lebih dari 460 juta ton plastik setiap tahun, dengan lebih dari 350 juta ton menjadi limbah, sementara hanya sekitar 9% yang berhasil didaur ulang. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya transformasi menuju sistem ekonomi sirkular yang lebih efektif.
Untuk Indonesia sendiri, produksi plastik mencapai sekitar 7,4 juta ton per tahun, menghasilkan limbah sekitar 4,22 juta ton, di mana sekitar 1,8 juta ton masih belum terkelola dengan baik. Dampaknya dirasakan melalui pencemaran lingkungan, ancaman terhadap sektor perikanan dan ketahanan pangan, hingga risiko kesehatan akibat mikroplastik. Inge Setyawati juga menyoroti perubahan paradigma industri global. Saat ini, perusahaan tidak lagi hanya bersaing melalui kualitas dan harga produk, tetapi juga berdasarkan performa keberlanjutan, jejak karbon, kepatuhan regulasi, dan implementasi prinsip ESG (Environmental, Social, Governance).
Dalam paparannya, Inge menjelaskan bahwa bioplastik memiliki beberapa manfaat strategis, antara lain mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku berbasis fosil, menurunkan emisi karbon, mendukung target ESG perusahaan, menyediakan solusi material yang dapat dikomposkan, serta melengkapi strategi daur ulang dalam ekonomi sirkular. Beliau juga menjelaskan bahwa istilah bioplastik tidak selalu berarti dapat terurai secara hayati. Bioplastik dapat berupa material bio-based, biodegradable, atau memiliki kedua karakteristik tersebut sekaligus. Oleh karena itu, pemahaman terhadap standar sertifikasi internasional maupun Standar Nasional Indonesia (SNI) menjadi sangat penting agar tidak terjadi kesalahpahaman di masyarakat. Selain itu, sejumlah tantangan masih harus dihadapi, seperti harga produk yang relatif lebih tinggi dibanding plastik konvensional, keterbatasan infrastruktur pengomposan, rendahnya literasi masyarakat, serta persaingan dengan produk impor.
Pada sesi berikutnya, Prof. Dr. Eng. Agus Haryono menyampaikan perspektif pemerintah mengenai arah pengembangan bioplastik di Indonesia. Menurutnya, pengembangan bioplastik tidak hanya membutuhkan inovasi teknologi, tetapi juga dukungan kebijakan yang berbasis riset serta kolaborasi antara pemerintah, lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan pelaku industri. Sebagai Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN, beliau menekankan pentingnya membangun ekosistem inovasi yang mampu mempercepat hilirisasi hasil riset menjadi produk industri yang memiliki daya saing global. Pengembangan bioplastik juga harus menjadi bagian dari strategi nasional dalam mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku fosil, memperkuat ekonomi hijau, serta mendukung target pembangunan berkelanjutan.
Melalui webinar ini, para narasumber sepakat bahwa masa depan industri bioplastik Indonesia sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, lembaga riset, dan masyarakat. Dengan kekayaan sumber daya hayati yang dimiliki Indonesia, dukungan regulasi yang semakin kuat, serta meningkatnya permintaan global terhadap material berkelanjutan, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat pengembangan bioplastik di kawasan Asia. Webinar ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman seluruh pemangku kepentingan mengenai pentingnya inovasi material berkelanjutan sekaligus memperkuat kolaborasi dalam mewujudkan industri polimer Indonesia yang lebih hijau, berdaya saing, dan berorientasi pada ekonomi sirkular.
Paparan Narasumber
Peserta Webinar
