FGD HPI Perkuat Roadmap Riset Polimer Nasional Menuju Industri Berkelanjutan 2045

FGD_HPI

Perhimpunan Polimer Indonesia (HPI) menggelar Focus Group Discussion (FGD) pada 22 April 2026 untuk memperkuat ekosistem dan merumuskan roadmap riset polimer nasional yang berorientasi pada kebutuhan industri dan keberlanjutan. Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber dari unsur industri, akademisi, dan pemerintah.

Pembicara pertama, Cecep Hardiyadi, ST., MT. (R&D PT. Chandra Asri Pacific, Tbk.), menekankan pentingnya riset polimer yang berbasis kebutuhan industri (demand-driven) dan dapat langsung diimplementasikan. Ia menyoroti empat fokus utama riset, yaitu pengembangan bio-nafta sebagai bahan baku berkelanjutan, optimalisasi mechanical dan chemical recycling, serta penguatan industri aditif dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan impor. Selain itu, ia menegaskan bahwa roadmap riset harus mempertimbangkan aspek keberlanjutan seperti ESG, ekonomi sirkular, serta kesiapan teknologi hingga skala industri.

Sementara itu, Dr. Eng. Hafis Pratama Rendra Graha, M.Eng (Dosen Teknik Kimia, Fakultas Teknik Industri ITB) memaparkan pentingnya pendekatan berbasis data dalam penyusunan roadmap riset. Ia menunjukkan tren global produksi plastik dan perkembangan bioplastik, serta kondisi Indonesia yang masih menghadapi tantangan dalam konsolidasi data, regulasi, dan kesiapan teknologi. Tingginya impor plastik nasional juga menjadi sorotan, sehingga diperlukan penguatan kapasitas industri dalam negeri serta sinkronisasi antara riset akademik dan kebutuhan industri.

Dari sisi pemerintah, Dr. Joddy Arya Laksmono, ST., MT. (Kepala Pusat Riset Teknologi Polimer BRIN) menekankan arah strategis pengembangan riset polimer menuju tahun 2045. Ia menyoroti pentingnya integrasi kebijakan, penguatan kapasitas riset nasional, serta percepatan hilirisasi inovasi untuk mendukung kemandirian industri polimer Indonesia yang berdaya saing global dan berkelanjutan.

FGD ini juga menggarisbawahi sejumlah tantangan utama industri polimer nasional, seperti ketergantungan pada bahan baku fosil, penurunan kualitas material daur ulang, keterbatasan teknologi untuk limbah plastik kompleks, serta tingginya impor bahan aditif. Sebagai solusi, diperlukan pengembangan teknologi berbasis bio, peningkatan kualitas daur ulang, serta inovasi bahan aditif lokal.

Melalui forum ini, HPI menegaskan komitmennya untuk menjadi penghubung antara akademisi, industri, dan pemerintah dalam membangun ekosistem riset polimer yang kuat. Kolaborasi lintas sektor diharapkan mampu menghasilkan inovasi yang tidak hanya unggul secara ilmiah, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi ekonomi dan lingkungan Indonesia.

Halal Bihalal HPI 2026
3
0
Scroll to Top