HPI dan PRI kembali menyelenggarakan webinar kedua bertajuk “Arah Pengembangan Industri Bahan Baku Plastik Berkelanjutan” pada Senin, 27 Juli 2026 secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Indonesia Polymer Awards 2026 dan diikuti oleh 84 peserta yang berasal dari kalangan industri, akademisi, lembaga penelitian, mahasiswa, serta instansi pemerintah. Webinar menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Fajar AD Budiyono, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (INAPLAS), serta Wiwik Pudjiastuti, Direktur Industri Kimia Hulu, Kementerian Perindustrian.
Dalam paparannya, Fajar AD Budiyono memaparkan kondisi aktual industri petrokimia Indonesia, termasuk potensi pemanfaatan berbagai sumber bahan baku seperti minyak bumi, gas alam, batubara, biomassa, hingga campuran minyak nabati. Beliau menekankan bahwa diversifikasi bahan baku memberikan fleksibilitas bagi industri dalam menjaga ketahanan pasokan sekaligus membuka peluang pengembangan petrokimia berbasis sumber daya lokal. Materi webinar juga mengulas perkembangan supply-demand bahan baku plastik nasional, termasuk peningkatan kapasitas produksi polipropilena melalui investasi baru yang diharapkan dapat mengurangi kesenjangan antara pasokan dan kebutuhan dalam negeri. Ditekankan juga pentingnya peningkatan penyerapan produk petrokimia nasional agar utilisasi industri meningkat dan ketahanan bahan baku nasional semakin kuat. Selain itu, disampaikan pula tantangan global yang dihadapi industri petrokimia, mulai dari dinamika geopolitik, perubahan regulasi internasional, hingga pentingnya pembangunan industri petrokimia berbasis batubara dan bio-feedstock untuk memenuhi kebutuhan domestik menuju Indonesia Emas 2045.
Sementara itu, Wiwik Pudjiastuti menjelaskan bahwa industri kimia dasar dan petrokimia memiliki peran strategis sebagai penyedia bahan baku bagi berbagai sektor manufaktur. Namun demikian, industri nasional masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain ketergantungan terhadap impor bahan baku seperti nafta, benzena, dan propilena, tingginya biaya investasi, keterbatasan infrastruktur, serta perlunya penguatan integrasi industri dari hulu hingga hilir. Di sisi lain, Indonesia memiliki peluang besar melalui ketersediaan sumber daya alam, pasar domestik yang terus berkembang, serta dukungan kebijakan pemerintah untuk memperkuat daya saing industri kimia nasional. Sesi berikutnya membahas arah kebijakan pengembangan industri bahan baku plastik nasional yang selaras dengan RPJMN 2025–2029 dan Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN). Pengembangan industri kimia dasar diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam melalui hilirisasi, memperkuat kapasitas produksi polimer dalam negeri, serta mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku plastik. Saat ini, meskipun beberapa jenis polimer telah diproduksi di Indonesia, kapasitas produksi nasional masih belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan domestik.
Dalam sesi mengenai keberlanjutan, narasumber menjelaskan bahwa masa depan industri petrokimia akan sangat dipengaruhi oleh efisiensi energi, diversifikasi sumber bahan baku, serta penerapan ekonomi sirkular. Pengembangan feedstock alternatif seperti bio-nafta, bioetanol, recycled feedstock dari minyak pirolisis limbah plastik, hingga teknologi rendah karbon menjadi bagian dari strategi menuju industri yang lebih ramah lingkungan. Diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari peserta yang mengajukan berbagai pertanyaan. Melalui webinar ini, HPI dan PRI berharap dapat memperkuat kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam mendorong pengembangan industri bahan baku plastik yang lebih berkelanjutan, inovatif, dan berdaya saing global.
Paparan Narasumber
Peserta Webinar
