FGD HPI #4 2025

FGD HPI #4 2025

Pada tanggal 22 oktober 2025, telah diadakan focus group discussion (FGD) Perhimpunan Polimer Indonesia (HPI) yang diadakan di Smart Auditorium IDE, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Acara yang bertemakan Pirolisis sebagai Solusi Pengelolaan Sampah Plastik: Riset, Implementasi, dan Kebijakan. FGD ini terselenggara atas Kerjasama HPI dengan Center for Sustainability and Waste Management (CSWM) Universitas Indonesia dan Plastic Rubber Indonesia (PRI).

Acara dibuka oleh Prof. Dr. Mochamad Chalid, S.Si., M.Sc.Eng., selaku Ketua HPI dan CSWM UI. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menghadirkan solusi berkelanjutan dalam pengelolaan sampah plastik. Diskusi diharapkan dapat memperluas wawasan mengenai konsep refused derived fuel (RDF) sebagai salah satu bentuk energi terbarukan dari limbah plastik.

FGD ini menghadirkan pembicara dari berbagai pemangku kepentingan, antara lain INAPLAS, PT Chandra Asri Pacific Tbk, dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Pemateri pertama, Fajar A.D. Budiyono selaku Sekretaris Jenderal Asosiasi Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (INAPLAS), memaparkan tentang implementasi chemical recycling dalam penerapan ekonomi sirkular. Ia menjelaskan bahwa pengelolaan limbah plastik harus dilakukan secara terpadu dari hulu ke hilir melalui prinsip 7R. Teknologi seperti mechanical recycling, chemical recycling, hingga konversi energi melalui pirolisis dan gasifikasi memungkinkan plastik pascakonsumsi kembali masuk ke rantai produksi.

Bapak Fajar juga menyoroti peran regulasi dalam mendukung sistem ini, salah satunya melalui Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentang Penanganan Sampah Perkotaan melalui Pengolahan Sampah menjadi Energi Terbarukan. Regulasi tersebut memberikan kemudahan perizinan, kepastian pasokan bahan baku, dan jaminan harga jual yang lebih layak. Ia menambahkan, RDF memiliki keunggulan seperti pengurangan emisi gas rumah kaca dan diversifikasi energi, meski masih menghadapi tantangan seperti kualitas bahan bakar yang bervariasi dan potensi emisi polutan.

Selanjutnya, Idham P. Mahatma dari PT Chandra Asri Pacific Tbk memaparkan penerapan teknologi pirolisis sebagai solusi pengelolaan sampah plastik. Melalui program Integrated Plastic Waste Management Site (IPST ASARI) di Cilegon, Chandra Asri mengimplementasikan model ekonomi sirkular berskala masyarakat dengan kapasitas pengumpulan sampah plastik hingga 8 ton per bulan. Sampah plastik bernilai tinggi dijual ke industri daur ulang, sementara sampah bernilai rendah diolah menjadi bahan bakar cair melalui proses pirolisis. Dengan kapasitas mesin 100 kg per batch, IPST ASARI menghasilkan tiga produk utama: gasoline plas, kerosene plas, dan diesel plas (BBM PLUSRI). Produk ini telah digunakan masyarakat dengan hasil uji lapangan yang positif, di mana campuran 10% minyak PLUSRI pada bahan bakar kendaraan menunjukkan performa mesin yang lebih halus tanpa peningkatan emisi asap. Program ini telah memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi lebih dari 1.500 rumah tangga, 28 nelayan, 39 UMKM, 2 industri, dan 1 sekolah.

Pemateri ketiga, Trois Dilisusendi dari Kementerian ESDM, menegaskan bahwa Indonesia menghadapi tantangan besar terkait timbulan sampah yang diproyeksikan mencapai 155,5 juta ton pada tahun 2030. Kapasitas TPA nasional diperkirakan tidak lagi mencukupi pada 2028. Sebagai solusi, pemerintah mendorong percepatan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) untuk mengubah sampah menjadi sumber energi terbarukan, sejalan dengan target bauran energi 23% pada tahun 2030 sebagaimana tercantum dalam PP No. 40 Tahun 2025.

FGD ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat dalam mengatasi permasalahan sampah plastik nasional. Melalui pendekatan teknologi seperti pirolisis dan RDF, diharapkan Indonesia dapat mempercepat transisi menuju pengelolaan sampah yang berkelanjutan serta berkontribusi terhadap penurunan emisi gas rumah kaca.

2
0
Scroll to Top