logotype

Lewat Teknologi Nano, Dr. Yenny Meliana Menyusun Ulang Semesta

 

Kompas.id (16/4)- Ditemui di kawasan Puspiptek Serpong, Yenny yang murah senyum mengajak berkeliling ke laboratorium Pusat Penelitian Kimia. Saat ini, ia sedang sibuk menyelesaikan tahap akhir dari rangkaian penelitian yang sudah dimulai sejak 2014 untuk pembuatan nanokristal bahan baku obat anti-malaria dengan kombinasi berbasis artemisinin.

"Orang ramai-ramai ke teknologi nano. Teknologi yang menyusun ulang segala sesuatu dalam ukuran nano," kata Yenny yang juga menjabat Kepala Bidang Pengelolahan dan Diseminasi Hasil Penelitian, Pusat Penelitian Kimia LIPI

Ketertarikannya pada ilmu kimia hingga memutuskan untuk mengabdikan diri sebagai peneliti, kini perempuan asal Curup Bengkulu ini telah mengantongi belasan hak cipta di bidang yang ia geluti, polimer misalnya. Baru saja, risetnya meraih penghargaan sains teknologi dan matematika dari L'Oreal UNESCO for Women in Science National Fellowship Awards 2016.

 Sumber: kompas.id

Read more: https://kompas.id/baca/gaya-hidup/2017/04/16/yenny-menyusun-semesta/

 

Karya Unggulan Iptek Anak Bangsa

On HATEKNAS (Hari Kebangkitan Teknologi Nasional 1995 – 2015), Ministry of RISTEKDIKTI gave 20 Awards "Karya Unggulan Iptek Anak Bangsa" in Jakarta. One of the award recipients was Mrs. Kuntari Adi Suhardjo, Mr. Hafid, and Mr. Surasno with their research Insulated Rail Joint from Composite Materials as A Substitute to Imported Rail Joint.

At first, they made IRJ from polyesther resin, fiberglass and kevlar with selling price around 2.8 million rupiahs. However, this price is still quite expensive. Then, they kept doing research and found that using composites from epoxy resin and fiberglass result in cheaper IRJ, which can get the selling price Rp. 1.900.000.- per set after tax. It is much cheaper than the imported IRJ with selling price Rp. 5-6 million per set. PT KAI needs IRJ more or less 160,000 pcs per year for only in Java island railways. So, with this technology, the country budget can be saved 160-240 billions rupiah per year.

Kuntari Adi Suhardjo

Read more: Karya Anak Bangsa

2017  HPI Polimer